Saturday, March 11, 2017

Kamu Jahat, Natasha!

Assalamualaikum... lama tak bersua setelah hampir 2 tahun gak pernah mampir di mari akhirnya kangen juga sama dia mau nulis, hehehe. Gak kayak tulisan jaman baheula dulu yang hobi banget nulis problematika hati, kali ini aku bakal bahas tentang problematika wajah yang lagi dapet musibah hiks...

Makin tua umur, makin banyak aja masalah yang dialami wajah. Mulai dari jerawat,flek, kusam, dll. Ok, langsung aja ke inti cerita, masalah wajah yang aku alami sebenarnya bukan masalah yang terlalu besar, wajah aku ada beberapa bekas jerawat, komedo, dan agak kusam. Tapi masalah yang pengen aku bahas ini bukan bagian itu, masalahnya adalah ketika aku mulai beralih ke N skincare. Sebelumnya aku adalah pengguna  produk W (si halal itu looh), udah dari jaman SMA dulu setia sama W. Kenapa berniat beralih? Karena produk W ini kayak gak ngasih perubahan, gitu-gitu aja wajah tetap kusam, kadang jerawatan, bekasnya dimana-mana. Kan pengen juga wajah mulus dan cerah. Jadi berniatlah untuk mengganti skincare.

Udah hampir 1 bulan aku menggunakan produk N. Awalnya hanya sekedar coba-coba, berharap dapat hasil wajah yang cerah, bekas jerawat pudar, glowing dan mulus kayak pantat bayi, dan aku penggennya wajah tetap terlihat senatural mungkin, gak kayak krim-krim kebanyakan yang putihnya over banget sampek warna muka sama sama badan beda kontras. Jadi, aku putuskanlah ke N, karena aku pikir N adalah skin care ternama di kota-kota besar dengan menyediakan dokter specialist kecantikan, skincare N juga terdaftar di BPOM, jadi trusted deh (kayaknya). Walaupun sebelumnya sempat dibuat galau oleh review-review di internet tentang effect dari N yang bikin bruntusan, ketergantungan, jerawatan, sempat juga nanya ke temen dan sodara, tentang N ini. Tapi aku mikir, jenis kulit orang kan beda-beda, belum tentu orang lain seperti itu aku juga seperti itu.

Dan, akhirnya datanglah ke skincare tersebut, mendapat kesan pertama dari dompet yang menjerit-jerit “aawwwaawwwww”, karena lenyaplah lebih dari setengah juta untuk 5 buah krim, toner, bubble cleanser, dan facial wash. Dalam hati berkata “gapapa yaa dompet, nanti uang bisa dicari semoga aja hasilnya varokah”.

Pemakaian seminggu, kayak gak ada perubahan, hanya wajah jadi agak lembab. Aku selalu pake secara teratur, sampe akhirnya nyampe kurang lebih satu bulan, wajah jadi agak cera sihh, tapi gak bersih-bersih amat, masih ada bekas jerawatnya (betah banget kamu yaaa). Tapi itu masih aku maklumi karena baru satu bulan, yang bikin aku risih setengah mati adalah.... tiba-tiba sepulang dari makan di luar, muka ditumbuhi bruntus-bruntus kecil merah (tepatnya di daerah dahi dan sekitar bawah hidung). What the hell is goin on???????? Aku kageeeeeet banget, pengen berontak dan menangis pilu. Kemudian aku pakein cream anti iritasi dri N, berharap benda-benda itu enyah dari wajahku. Lalu keesokan harinya, pas bangun tidur aku langsung datang menghampiri cermin, merah-merahnya hilang sih, tapi bruntusnya masihhhhhhh itu kayak bekas luka gituuu. Jadi, beberapa hari ini aku pake krim anti iritasi dan stop pake krim siang & krim malam, dan hasilnya malah menyebar ke hidung tuh bruntusnya. Sekilas memang tidak keliahatan, dan seperti baik-baik saja. Tapi pas dipegang, wajah kasarrrrrr banget kayak parutan. Sediiiiiiiihhhhhhh, terisak-isak sampai tak berdayaaaaaaa.

Aku berniat buat konsultasi langsung ke dokter N, tapi belum sempat ke sana karena lagi sibuk banget. Aku searching-searching lagi blogger yang bernasib sama, ternyata banyak banget yg bruntusan akibat N ini. Apakah ini kualat buat aku yang gak percayaan sama review-review korban N, akhirnya dibuktikan sendiri deh, nangis deh hiks.....

Untuk sementara ini, aku mau memastikan dulu datang ke doternya, mungkin lusa baru bisa ke sana. Kabar selanjutnya bakal aku ceritain di next post yaa. Semoga lusa bisa konsultasi ke dokternya, dan dapat penawar untuk para bruntus-bruntus ini :’(

Friday, December 4, 2015

Seseorang Tak Ternamai

           Sampai detik ini masih tak sampai fikirku,  harus kuberi nama apa perkenalan maya empat tahun yang lalu. Harus kusebut apa ketika kita dipertemukan saat sama-sama butuh penyembuh hati yang kala itu sama-sama sedang rapuh. Harus kuterjemahkan sebagai apa degup-degup di dadaku setiap kali berada di sampingmu. Dan masih tak dapat kutemukan sedikitpun jawaban, harus kunamai apa kamu di hidupku?
-----||-----
            Rasanya masih jelas terekam di kepalaku, tatapan mata canggungmu saat pertama kali menemuiku pada Rabu malam itu, setelah empat tahun hanya bisa menebak tatapanmu dari suara di balik telephoneku. Sejak itu kita (lebih tepat bila kusebut aku dan kamu) senang mempersempit jarak dengan sering bertemu.
            Kau memberiku pesan untuk tidak terperangkap perasaan yang seharusnya tidak muncul di hati kita masing-masing. Sebab kebersamaan kita selama ini adalah bukan untuk saling menemukan rasa itu. Tapi sialnya aku kalah, aku kalah menepikan cinta-cinta yang dengan lajunya tumbuh di dadaku. Aku kalah setiap kali melawan matamu, sebab setiap kali melihat ke arahnya selalu hilang niatku mengedipkan tatapanku. Aku kalah setiap kali mendengar leluconmu, bukannya tertawa tapi malah membuatku semakin terbawa.
-----||-----
            Entah berbahagia atau kau sebut sial, telah dijatuh cintai olehku. Sebab cinta yang kau undang tumbuh seramai-ramainya ke dalam hatiku, dengan mudahnya kau persilahkan pulang tanpa kau tau caranya. Entah apa yang membuatku begitu menulikan telinga dengan tetap berteriak bahwa aku mencintaimu lebih dan lebih setiap waktunya, meski kau akan lebih berteriak memintaku untuk meninggalkanmu terus dan terus, setiap harinya. Entah apa yang membuatku begitu membutakan mata, meski dengan jelas terlihat bahwa aku tak pernah kau lihat.
Maafkan aku tak cukup hebat untuk menumbuhkan cinta di dadamu, mungkin memang benar ada kalanya cinta tidak dibalas dengan cinta. Maafkan aku tak cukup istimewa untuk menempati ruang paling dalam di hatimu, mungkin benar, tahu diri adalah perintah paling tepat untukku.

Teruntuk cinta yang menghuni dada, kumohon betahlah lebih lama lagi meski kau selalu bertanya-tanya kau untuk siapa. Dan untukmu yang kusebut seseorang tak ternamai, kau boleh sedikit lega karena setidaknya kau tau menamaiku dengan apa, meski kau namaiku dengan “bukan siapa-siapa”.

Monday, October 5, 2015

Permukaan Kopi


KOPI- Lebih tepatnya secangkir kopi. Kadang kau kuteguk atau sekedar kuhirup aromamu. Kadang kau ada di pagi, siang, malam atau kapanmu kamu suka, dan pergi juga dengan sesuka, habis. Kau adalah favoritku kadang-kadang, musuh kadang-kadang, teman kadang-kadang, kopi sering mengkadang-kadangkan aku.

Aku hanya butuh secangkir kopi untuk mengingatmu. Kuseduh kau setiap kali detak jantung terdengar berteriak meronta-ronta, rindu katanya. Kupandangi permukaanmu dari atas cangkir bundar, sejam, dua jam, bahkan dua puluh empat jam, walau logika terasa ngilu menangkap hal ini. Namun paling tidak, jantungku bisa berdetak normal kembali. Kupandangi terus permukaanmu, kau seakan berbicara “teguk aku, aku mencintaimu” begitu katamu, tapi nyatanya kau tak diam, kau tak tenang, kau berlari berputar mengikut arus adukkan kopi. Tapi aku tak lelah, tetap kupandangi kau yang begitu menghangat, terlalu hangat bahkan hingga menyenap luka lidahku. Tapi aku tak marah, tetap kupandangi permukaanmu yang begitu manis, meski kau beriku rasa pahit pada ujungnya.

Kopi, sepekat apapun kau memahitkan dirimu, izinkan aku untuk tidak jera menggilaimu. Selaju apapun kau melarikan diri, izinkan aku untuk tidak juga mengangkat kaki. Biarku di sini, dengan asyik menyaksikanmu di permukaan secangkir kopi, biarku di sini mendekap hangatmu, menikmati pahit manis denganmu, mengasuh cinta yang tercipta darimana saja gerikmu bergerak.

Kopi, ingin rasanya aku larut di matamu, siapa tahu esok lusa cinta juga ikut tumbuh di dadamu. Tetaplah kau menjadi kopi. Kopi rasa luka dan cinta. Tetaplah menjadi teman akrab  puisi-puisiku di tengah malam. Tetaplah menjadi kopi, meski teman, meski hanya mencandumu sendirian.

Thursday, February 19, 2015

Andaian-andaianku

Seandainya kamu mampu menangkap paham, bagaimana rasanya menatapi dua bola mata meski  ia dipandang sebelah saja, bagaimana rasanya memeluk hangat tubuh yang sebenarnya ia tidak butuh, bagaimana rasanya menampakan diri dengan sejelas-jelasnya meski selalu disembunyikan sesembunyi-sembunyinya?

Seandainya kamu mampu menangkap pikir, bagaimana rasanya mengejar sesuatu  yang terlalu laju berlari, bagaimana rasanya menggapai sesuatu yang terlalu tinggi, bagaimana rasanya berusaha setengah mati meski perih dalam hati, bagaimana rasanya mentabahkan diri-sendiri meski melatih sabar setiap hari, dan bagaimana rasanya mengedepankan meski sendirinya di posisi ke-sekian.

Seandainaya kamu mampu menangkap nalar, bagaimana rasanya bersetia kepada seorang pemain perasaan, bagaimana rasanya menjaga tingkah laku untuk yang  sesuka perasa, dan bagaimana rasanya berjuang mati-matian dan tetap saja tersingkirkan?

Dan seandainya kamu mampu menangkap sebab-akibat. Bahwa pada saatnya saya telah lelah bercampur sedikit marah.  Bahwa pada masanya rasa kesal melerah menjadi kecewa yang sangat parah. Bahwa pada akhirnya hati saya benar-benar patah dan pada akhirnya benar-benar menyerah. Pasrah...

Lalu sendainya kamu mampu menangkap alasan-alasan sebelum hanya bisa menyalahkan saya? bila pada akhirnya saya memilih membaharui perasaan? bila pada akhirnya saya memilih angkat kaki, memilih pergi. Bila pada akhirnya saya memilih yang baru, memilih cinta yang lebih menggebu? Harap jelaskan dengan rinci terletak di bagian manakah kesalahan saya? Jelaskan landasan atas pernyataan bahwa saya adalah pemenang dari permainan yang kamu buat sendiri? Jelaskan kalimat yang kamu nyatakan bahwa kamu telah saya kalahkan? Bukankah kamu yang memerangi saya setiap hari? Hingga luka-luka yang tak terhitungi jari. Lalu kenapa saya disalahkan? Saya terkalahi, oleh sebab itu saya menepi. Kamu yang menang, lalu kenapa menjadi berang?

Dan seandainya semua cerita ini tak pernah terjadi, tak akan ada yang datang, tak akan ada yang pergi. Seandainya cerita ini bisa saya aluri sendiri, tak akan ada yang benci, tak akan ada yang mencari-cari. Seandainya  cerita ini dapat saya pilah dan pilih, tak akan ada yang tersakiti, tak akan ada yang menyimpan perih. Seandainya cerita ini dapat saya hapus dan ganti, bahkan setelah tulisan ini jadi...


Saturday, February 14, 2015

Si Pancaroba

Kamu  adalah musim bulan ini. Hujan dan panas tiba-tiba. Kamu adalah musim pada Januari ini, mendingin dan menghangat sesuka hati. Kamu adalah musim ini, hatimu bermusim.

Pada musim bulan ini, kamu adalah hujan deras yang mencekik tajam tubuh saya dengan dinginmu, membekukan hati yang bagimu tidak terlalu penting, hingga menjadikannya tahan banting meski sebenarnya terpontang panting menahan pening.

-----||-----

Kamu datang lagi. Menawarkan sebuah ketentraman dari hangatnya musim panas. Tiba-tiba kau mengulurkan tanganmu, bahkan kau mengulurkan seluruh dirimu. Menawarkankan musim barumu  tak sekejam musim lalu, menawarkankan hatimu yang tak lagi seperti waktu itu, tanpa tau bahwa hati yang pernah kau abaikankan telah beku membiru.

Kamu datang lagi, menampakkan senyum sumringah. Menawarkan hari-hari yang cerah. Tanpa tau bahwa hati yang pernah kau acuhkan telah terpecah belah nan parah.

Kamu datang lagi, tanpa tau apakah saya masih layak untuk peduli? Tanpa tau posisi diri saat deras hujan menerkam wajah saya? Jauh sebelum kilat menyambar lenyap cinta dalam hati saya? Tanpa tau letak diri, saat seribu kaki mendorong langkah saya melewati genangan air dari hujan-hujan yang kau ciptakan. Sekarang kamu menerikkan matahari, mengeringkan segala yang basah kuyup. Kamu adalah panas dan 5 menit yang lalu kamu adalah hujan, berganti langit sesuka diri, berganti rasa sesuka hati, persis musim ini.

Kamu datang lagi, tanpa pernah ingat perjuangan  yang kau pandang sebelah mata, bahkan kau menutup kedua matamu. Semangat  yang kau rendahkan, bahkan terkubur menjadi abur. Juga seribu bait tangisan yang kau sumpah menjadi sampah. Blahhhhhh...

Kamu datang lagi, semau hati. Kamu membalikkan semuanya, sesuka perasa.

Kamu menawarkan panas ketika dingin menjadi sangat menenangkan saya, ketika dingin menjadi puncak tentram bagi saya untuk membuang sisa-sisa perasaan. Tak perlu bersusah payah mengubah dirimu. Tetaplah menjadi air hujan di sana, terkam saja saya, tusuk tajam wajah saya hingga menjingga. Karena percuma bila kau menerikkan matahari, saya tidak akan menghangat, saya sudah terlalu jatuh cinta kepada dingin. Sebelum kau meredakan hujanmu, kau terlebih dulu meredakan cinta saya. Salam pamitku, untukmu si Pancaroba.

Saturday, January 3, 2015

Keredhaanku

Hampir 30 hari setelah kita memutuskan saya menjadi saya, dan kamu menjadi kamu. Selama hampir 30 hari pula, saya berusaha meyakinkan diri untuk segera berhenti dari apa yang selama ini saya semogakan. Sampai pada saat saya benar-benar tersadarkan, bahwa alasan terdasar dari perpisahan ini adalah ketidakmampuan. Ketidakmampuan untuk saling menunggu satu sama lain, ketidakmampuan untuk meyakinkan diri masing-masing, ketidakmampuan untuk melawan perbedaan. Kita menyerah pada berapa ribu anak tangga yang sudah kita pijaki. Kita menyerah, bahkan setelah melawan hujan dan panas bersama-sama. Kita menyerah, setelah menggali cinta sedalam-dalamnya. Kita menyerah, atau lebih tepatnya terlalu pasrah.

Dalam hal ini, tidak ada yang kalah maupun menang. Karena untuk dua orang yang menyerah tidak pantas disebut pemenang, dan dua orang yang bisa setabah ini juga tidak pantas disebut kalah. Kali ini saya yang akan membuang ego jauh-jauh, sejauh saya akan membawa diri saya nanti. Kali ini, saya yang akan menundukkan kepala, tanpa  rasa marah. Kali ini, saya yang akan memahami, tanpa balutan emosi.

Ini adalah hal yang sebenarnya paling saya takutkan, hal dimana kamu menarik diri untuk melanjutkan fasemu tanpa saya. Ini terlalu mengerikan untuk saya perjelas dan terlalu menakutkan untuk saya paparkan, ini terlalu sadis.

Tapi pada hari ini saya berjanji kepada kamu, saya sertakan tulisan ini menjadi saksi meski bisu, dan hukum saja bila saya mengingkari. Saya berjanji untuk mengikhlaskanmu meski dalam waktu yang saya sendiri juga tidak tau. Entah seminggu,  setahun, lima tahun, atau bahkan setelah saya terbangun besok pagi. Saya berjanji untuk benar-benar redha melihat kamu bahagia dari jauh. Saya janji untuk tidak akan menangis bila nanti saya temui kamu bersama seseorang yang menggantikan saya. Saya janji akan selalu mengingat pesan terakhir kamu. Saya janji akan baik-baik saja di sini.

Saya sangat berterimakasih untuk waktu dua tahun ini, untuk hal-hal yang pernah kamu ajarkan, untuk wawasan yang telah kamu bagi, untuk candaan hangat setiap hari, terimakasih karena kamu adalah satu-satunya yang bisa meyakinkan hati orang tua saya. Terimakasih juga sudah pernah membawa saya masuk ke dalam hangatnya keluarga besar kamu, saya janji jika saya bertemu mereka akan saya berikan senyuman terikhlas. Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih banyak. Saya pasti akan merindukan kamu, entah bagaimana cara saya menyembunyikan itu. Saya akan tetap mengingat kamu, entah bagaimana cara saya membuatnya segera berlalu. Kamu akan tetap istimewa, tak peduli sebagai apapun.

Selamat menjalani hidup masing-masing. Mohon doanya untuk segera mungkin saya ikhlaskan. Semoga kita baik-baik saja, meski kabarmu tak bisa setiap hari saya tanya. Semoga kita selalu berbahagia, meski di jalan yang sudah berbeda. Bye~

                                                                                                                                                                  

Monday, December 29, 2014

Hello Winter, Goodbye Er

Banyak orang bilang saat kita jatuh cinta, "ta*k kucing pun rasa coklat". Sekarang saya katakan dengan lantang "saat kita patah hati, coklat selezat cadburry pun rasa ta*k kucing" (meskipun gak pernah jugasih ngerasain ta*k kucing).

Saya bukan manusia harimau atau bahkan manusia serigala, saya cuma manusia biasa dan pasti pernah merasakan kebimbangan, antara maju atau mundur, antara ke kiri atau kanan, yang sering dikenal dengan kata “galau”. Penyebab tersering saya galau paling-paling karena uang bulanan menipis, atau galau karena tugas kuliah, simple ajasih tapi kalau galau serumit patah hati itu udah lamaaaaa sekali, terakhir pas masih seragam abu-abulah. Patah hati? Saya bahkan hampir lupa rasanya gimana, tapi saat saya sudah lupa saat itu pula si setan  mengingatkannya kembali, *sorry, I mean mantan* saat itu pula keceriaan saya, keriangan saya berganti menjadi amarahhhh, murungggg, tangisannnn yg menggema seluruh Indonesia, mirip tangisan  pada film ratapan anak tiri *hahhh bayangkanlah kau. Itu diibaratkan musim panas ceria, berganti langit yang selalu mendung dan hujan setiap harinya, iya kan ini Desember.

Hello Desember, selamat datang musim hujan. Ini juga salah, kenapa harus patah hati pada saat musim hujan? Bangun tidur hujan *galauuuu, mau tidur hujan *galauuuu, siang-siang hujan *yaaaa tidur sianglahhh. Tapi memang benar, hujan pengundang galau. Mungkin karena kita gak bisa kemana-mana, terlepet cantik di rumah jadi bawaannya galauuuu gitu. Atau karena feel hujannya yang dingin mengundang. Jujur ajasih saya gak suka musim hujan, saya lebih suka musim panas, biar orang yang keras kepala, keras hati, bisa mencair dan bisa balikan *eh salah.
Balik lagi ke patah hati. Patah hati itu rasanya seperti.... ahhh pokoknya lebih menyakitkan dari cubitan mama waktu saya kecil, lebih menggeramkan dari tugas yang setengah mati dikerjain tapi gak dinilai, lebih mengenaskan dari korban mutilasi (stop, yang ini lebay). Intinya patah hati itu gak enak, buka recent updates, beliau nongol ganti DP, bikin PM, *saya galauuuu, buka path beliau nongol bercengkerama sama betina lain *saya galauuu, buka galeri hp banyak foto beliau *saya galauuu, denger lagu, liriknya ngena semua *saya galauuu, buka IG quote2nya nyinggung semua *saya galauuu. Apa sebenarnya salah sayaaaa? Kemana harus saya sembunyikan diri saya yang rapuh ini? Tolongggggggggg .... Tolongggggggg..... * don’t lebaying please

Ketika lagi galau lalu nulis kayak gini, saya berasa Bunda Hana yang selalu mencurahkan isi hati lewat blog, hanya bedanya tulisan Bunda Hana banyak yg baca, kalau tulisan saya mah cuma saya seorang yang mau baca.  Mas Brammmmm? Kamu dimanaaaaaa? Mas Brammmmm tolong telepon Bunda nanti malam, Bunda masih pakai nomer lamaaaa, Bunda kangennnn, Bunda anu.... Bunda eeee... *SORRY INI KODE BESAR*

Okay, ini cuma sekedar iseng semata, apabila memiliki kesamaan nama, tempat atau kejadian, saya beserta keluarga mngucapkan mohon maaaf lahir batin.


Jangan terlalu diseriusinlah tulisannya, namanya juga gurau. Ahhh nanti serius juga ditinggalin *tuhkannn jangan dipancing makanyaaaa, busuk ati kauuuu.

Hehehehehe.