Hampir 30 hari setelah kita memutuskan saya menjadi saya,
dan kamu menjadi kamu. Selama hampir 30 hari pula, saya berusaha meyakinkan
diri untuk segera berhenti dari apa yang selama ini saya semogakan. Sampai pada
saat saya benar-benar tersadarkan, bahwa alasan terdasar dari perpisahan ini
adalah ketidakmampuan. Ketidakmampuan untuk saling menunggu satu sama lain,
ketidakmampuan untuk meyakinkan diri masing-masing, ketidakmampuan untuk
melawan perbedaan. Kita menyerah pada berapa ribu anak tangga yang sudah kita
pijaki. Kita menyerah, bahkan setelah melawan hujan dan panas bersama-sama.
Kita menyerah, setelah menggali cinta sedalam-dalamnya. Kita menyerah, atau
lebih tepatnya terlalu pasrah.
Dalam hal ini, tidak ada yang kalah maupun menang. Karena
untuk dua orang yang menyerah tidak pantas disebut pemenang, dan dua orang yang
bisa setabah ini juga tidak pantas disebut kalah. Kali ini saya yang akan
membuang ego jauh-jauh, sejauh saya akan membawa diri saya nanti. Kali ini,
saya yang akan menundukkan kepala, tanpa rasa marah. Kali ini, saya yang akan memahami,
tanpa balutan emosi.
Ini adalah hal yang sebenarnya paling saya takutkan, hal
dimana kamu menarik diri untuk melanjutkan fasemu tanpa saya. Ini terlalu
mengerikan untuk saya perjelas dan terlalu menakutkan untuk saya paparkan, ini terlalu
sadis.
Tapi pada hari ini saya berjanji kepada kamu, saya sertakan
tulisan ini menjadi saksi meski bisu, dan hukum saja bila saya mengingkari. Saya
berjanji untuk mengikhlaskanmu meski dalam waktu yang saya sendiri juga tidak
tau. Entah seminggu, setahun, lima
tahun, atau bahkan setelah saya terbangun besok pagi. Saya berjanji untuk
benar-benar redha melihat kamu bahagia dari jauh. Saya janji untuk tidak akan
menangis bila nanti saya temui kamu bersama seseorang yang menggantikan saya.
Saya janji akan selalu mengingat pesan terakhir kamu. Saya janji akan
baik-baik saja di sini.
Saya sangat berterimakasih untuk waktu dua tahun ini, untuk
hal-hal yang pernah kamu ajarkan, untuk wawasan yang telah kamu bagi, untuk
candaan hangat setiap hari, terimakasih karena kamu adalah satu-satunya yang
bisa meyakinkan hati orang tua saya. Terimakasih juga sudah pernah membawa saya masuk ke dalam hangatnya keluarga besar
kamu, saya janji jika saya bertemu mereka akan saya berikan senyuman terikhlas. Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih banyak. Saya pasti akan merindukan kamu, entah bagaimana cara saya menyembunyikan
itu. Saya akan tetap mengingat kamu, entah bagaimana cara saya membuatnya
segera berlalu. Kamu akan tetap istimewa, tak peduli sebagai apapun.
Selamat menjalani hidup masing-masing. Mohon doanya untuk
segera mungkin saya ikhlaskan. Semoga kita baik-baik saja, meski kabarmu tak
bisa setiap hari saya tanya. Semoga kita selalu berbahagia, meski di jalan yang
sudah berbeda. Bye~
No comments:
Post a Comment