Saturday, January 3, 2015

Keredhaanku

Hampir 30 hari setelah kita memutuskan saya menjadi saya, dan kamu menjadi kamu. Selama hampir 30 hari pula, saya berusaha meyakinkan diri untuk segera berhenti dari apa yang selama ini saya semogakan. Sampai pada saat saya benar-benar tersadarkan, bahwa alasan terdasar dari perpisahan ini adalah ketidakmampuan. Ketidakmampuan untuk saling menunggu satu sama lain, ketidakmampuan untuk meyakinkan diri masing-masing, ketidakmampuan untuk melawan perbedaan. Kita menyerah pada berapa ribu anak tangga yang sudah kita pijaki. Kita menyerah, bahkan setelah melawan hujan dan panas bersama-sama. Kita menyerah, setelah menggali cinta sedalam-dalamnya. Kita menyerah, atau lebih tepatnya terlalu pasrah.

Dalam hal ini, tidak ada yang kalah maupun menang. Karena untuk dua orang yang menyerah tidak pantas disebut pemenang, dan dua orang yang bisa setabah ini juga tidak pantas disebut kalah. Kali ini saya yang akan membuang ego jauh-jauh, sejauh saya akan membawa diri saya nanti. Kali ini, saya yang akan menundukkan kepala, tanpa  rasa marah. Kali ini, saya yang akan memahami, tanpa balutan emosi.

Ini adalah hal yang sebenarnya paling saya takutkan, hal dimana kamu menarik diri untuk melanjutkan fasemu tanpa saya. Ini terlalu mengerikan untuk saya perjelas dan terlalu menakutkan untuk saya paparkan, ini terlalu sadis.

Tapi pada hari ini saya berjanji kepada kamu, saya sertakan tulisan ini menjadi saksi meski bisu, dan hukum saja bila saya mengingkari. Saya berjanji untuk mengikhlaskanmu meski dalam waktu yang saya sendiri juga tidak tau. Entah seminggu,  setahun, lima tahun, atau bahkan setelah saya terbangun besok pagi. Saya berjanji untuk benar-benar redha melihat kamu bahagia dari jauh. Saya janji untuk tidak akan menangis bila nanti saya temui kamu bersama seseorang yang menggantikan saya. Saya janji akan selalu mengingat pesan terakhir kamu. Saya janji akan baik-baik saja di sini.

Saya sangat berterimakasih untuk waktu dua tahun ini, untuk hal-hal yang pernah kamu ajarkan, untuk wawasan yang telah kamu bagi, untuk candaan hangat setiap hari, terimakasih karena kamu adalah satu-satunya yang bisa meyakinkan hati orang tua saya. Terimakasih juga sudah pernah membawa saya masuk ke dalam hangatnya keluarga besar kamu, saya janji jika saya bertemu mereka akan saya berikan senyuman terikhlas. Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih banyak. Saya pasti akan merindukan kamu, entah bagaimana cara saya menyembunyikan itu. Saya akan tetap mengingat kamu, entah bagaimana cara saya membuatnya segera berlalu. Kamu akan tetap istimewa, tak peduli sebagai apapun.

Selamat menjalani hidup masing-masing. Mohon doanya untuk segera mungkin saya ikhlaskan. Semoga kita baik-baik saja, meski kabarmu tak bisa setiap hari saya tanya. Semoga kita selalu berbahagia, meski di jalan yang sudah berbeda. Bye~

                                                                                                                                                                  

No comments:

Post a Comment