Saturday, February 14, 2015

Si Pancaroba

Kamu  adalah musim bulan ini. Hujan dan panas tiba-tiba. Kamu adalah musim pada Januari ini, mendingin dan menghangat sesuka hati. Kamu adalah musim ini, hatimu bermusim.

Pada musim bulan ini, kamu adalah hujan deras yang mencekik tajam tubuh saya dengan dinginmu, membekukan hati yang bagimu tidak terlalu penting, hingga menjadikannya tahan banting meski sebenarnya terpontang panting menahan pening.

-----||-----

Kamu datang lagi. Menawarkan sebuah ketentraman dari hangatnya musim panas. Tiba-tiba kau mengulurkan tanganmu, bahkan kau mengulurkan seluruh dirimu. Menawarkankan musim barumu  tak sekejam musim lalu, menawarkankan hatimu yang tak lagi seperti waktu itu, tanpa tau bahwa hati yang pernah kau abaikankan telah beku membiru.

Kamu datang lagi, menampakkan senyum sumringah. Menawarkan hari-hari yang cerah. Tanpa tau bahwa hati yang pernah kau acuhkan telah terpecah belah nan parah.

Kamu datang lagi, tanpa tau apakah saya masih layak untuk peduli? Tanpa tau posisi diri saat deras hujan menerkam wajah saya? Jauh sebelum kilat menyambar lenyap cinta dalam hati saya? Tanpa tau letak diri, saat seribu kaki mendorong langkah saya melewati genangan air dari hujan-hujan yang kau ciptakan. Sekarang kamu menerikkan matahari, mengeringkan segala yang basah kuyup. Kamu adalah panas dan 5 menit yang lalu kamu adalah hujan, berganti langit sesuka diri, berganti rasa sesuka hati, persis musim ini.

Kamu datang lagi, tanpa pernah ingat perjuangan  yang kau pandang sebelah mata, bahkan kau menutup kedua matamu. Semangat  yang kau rendahkan, bahkan terkubur menjadi abur. Juga seribu bait tangisan yang kau sumpah menjadi sampah. Blahhhhhh...

Kamu datang lagi, semau hati. Kamu membalikkan semuanya, sesuka perasa.

Kamu menawarkan panas ketika dingin menjadi sangat menenangkan saya, ketika dingin menjadi puncak tentram bagi saya untuk membuang sisa-sisa perasaan. Tak perlu bersusah payah mengubah dirimu. Tetaplah menjadi air hujan di sana, terkam saja saya, tusuk tajam wajah saya hingga menjingga. Karena percuma bila kau menerikkan matahari, saya tidak akan menghangat, saya sudah terlalu jatuh cinta kepada dingin. Sebelum kau meredakan hujanmu, kau terlebih dulu meredakan cinta saya. Salam pamitku, untukmu si Pancaroba.

No comments:

Post a Comment