Sampai detik ini masih tak sampai fikirku, harus kuberi nama apa perkenalan maya empat
tahun yang lalu. Harus kusebut apa ketika kita dipertemukan saat sama-sama
butuh penyembuh hati yang kala itu sama-sama sedang rapuh. Harus kuterjemahkan sebagai
apa degup-degup di dadaku setiap kali berada di sampingmu. Dan masih tak dapat
kutemukan sedikitpun jawaban, harus kunamai apa kamu di hidupku?
-----||-----
Rasanya
masih jelas terekam di kepalaku, tatapan mata canggungmu saat pertama kali
menemuiku pada Rabu malam itu, setelah empat tahun hanya bisa menebak tatapanmu
dari suara di balik telephoneku. Sejak itu kita (lebih tepat bila kusebut aku
dan kamu) senang mempersempit jarak dengan sering bertemu.
Kau
memberiku pesan untuk tidak terperangkap perasaan yang seharusnya tidak muncul
di hati kita masing-masing. Sebab kebersamaan kita selama ini adalah bukan
untuk saling menemukan rasa itu. Tapi sialnya aku kalah, aku kalah menepikan
cinta-cinta yang dengan lajunya tumbuh di dadaku. Aku kalah setiap kali melawan
matamu, sebab setiap kali melihat ke arahnya selalu hilang niatku mengedipkan
tatapanku. Aku kalah setiap kali mendengar leluconmu, bukannya tertawa tapi
malah membuatku semakin terbawa.
-----||-----
Entah
berbahagia atau kau sebut sial, telah dijatuh cintai olehku. Sebab cinta yang
kau undang tumbuh seramai-ramainya ke dalam hatiku, dengan mudahnya kau
persilahkan pulang tanpa kau tau caranya. Entah apa yang membuatku begitu
menulikan telinga dengan tetap berteriak bahwa aku mencintaimu lebih dan lebih
setiap waktunya, meski kau akan lebih berteriak memintaku untuk meninggalkanmu
terus dan terus, setiap harinya. Entah apa yang membuatku begitu membutakan
mata, meski dengan jelas terlihat bahwa aku tak pernah kau lihat.
Maafkan aku tak cukup
hebat untuk menumbuhkan cinta di dadamu, mungkin memang benar ada kalanya cinta
tidak dibalas dengan cinta. Maafkan aku tak cukup istimewa untuk menempati
ruang paling dalam di hatimu, mungkin benar, tahu diri adalah perintah paling tepat
untukku.
Teruntuk cinta yang
menghuni dada, kumohon betahlah lebih lama lagi meski kau selalu bertanya-tanya
kau untuk siapa. Dan untukmu yang kusebut seseorang tak ternamai, kau boleh
sedikit lega karena setidaknya kau tau menamaiku dengan apa, meski kau namaiku
dengan “bukan siapa-siapa”.
No comments:
Post a Comment