Friday, December 4, 2015

Seseorang Tak Ternamai

           Sampai detik ini masih tak sampai fikirku,  harus kuberi nama apa perkenalan maya empat tahun yang lalu. Harus kusebut apa ketika kita dipertemukan saat sama-sama butuh penyembuh hati yang kala itu sama-sama sedang rapuh. Harus kuterjemahkan sebagai apa degup-degup di dadaku setiap kali berada di sampingmu. Dan masih tak dapat kutemukan sedikitpun jawaban, harus kunamai apa kamu di hidupku?
-----||-----
            Rasanya masih jelas terekam di kepalaku, tatapan mata canggungmu saat pertama kali menemuiku pada Rabu malam itu, setelah empat tahun hanya bisa menebak tatapanmu dari suara di balik telephoneku. Sejak itu kita (lebih tepat bila kusebut aku dan kamu) senang mempersempit jarak dengan sering bertemu.
            Kau memberiku pesan untuk tidak terperangkap perasaan yang seharusnya tidak muncul di hati kita masing-masing. Sebab kebersamaan kita selama ini adalah bukan untuk saling menemukan rasa itu. Tapi sialnya aku kalah, aku kalah menepikan cinta-cinta yang dengan lajunya tumbuh di dadaku. Aku kalah setiap kali melawan matamu, sebab setiap kali melihat ke arahnya selalu hilang niatku mengedipkan tatapanku. Aku kalah setiap kali mendengar leluconmu, bukannya tertawa tapi malah membuatku semakin terbawa.
-----||-----
            Entah berbahagia atau kau sebut sial, telah dijatuh cintai olehku. Sebab cinta yang kau undang tumbuh seramai-ramainya ke dalam hatiku, dengan mudahnya kau persilahkan pulang tanpa kau tau caranya. Entah apa yang membuatku begitu menulikan telinga dengan tetap berteriak bahwa aku mencintaimu lebih dan lebih setiap waktunya, meski kau akan lebih berteriak memintaku untuk meninggalkanmu terus dan terus, setiap harinya. Entah apa yang membuatku begitu membutakan mata, meski dengan jelas terlihat bahwa aku tak pernah kau lihat.
Maafkan aku tak cukup hebat untuk menumbuhkan cinta di dadamu, mungkin memang benar ada kalanya cinta tidak dibalas dengan cinta. Maafkan aku tak cukup istimewa untuk menempati ruang paling dalam di hatimu, mungkin benar, tahu diri adalah perintah paling tepat untukku.

Teruntuk cinta yang menghuni dada, kumohon betahlah lebih lama lagi meski kau selalu bertanya-tanya kau untuk siapa. Dan untukmu yang kusebut seseorang tak ternamai, kau boleh sedikit lega karena setidaknya kau tau menamaiku dengan apa, meski kau namaiku dengan “bukan siapa-siapa”.

No comments:

Post a Comment