KOPI- Lebih tepatnya secangkir
kopi. Kadang kau kuteguk atau sekedar kuhirup aromamu. Kadang kau ada di pagi,
siang, malam atau kapanmu kamu suka, dan pergi juga dengan sesuka, habis. Kau
adalah favoritku kadang-kadang, musuh kadang-kadang, teman kadang-kadang, kopi
sering mengkadang-kadangkan aku.
Aku hanya butuh secangkir kopi
untuk mengingatmu. Kuseduh kau setiap kali detak jantung terdengar berteriak
meronta-ronta, rindu katanya. Kupandangi permukaanmu dari atas cangkir bundar,
sejam, dua jam, bahkan dua puluh empat jam, walau logika terasa ngilu menangkap
hal ini. Namun paling tidak, jantungku bisa berdetak normal kembali. Kupandangi
terus permukaanmu, kau seakan berbicara “teguk aku, aku mencintaimu” begitu
katamu, tapi nyatanya kau tak diam, kau tak tenang, kau berlari berputar
mengikut arus adukkan kopi. Tapi aku tak lelah, tetap kupandangi kau yang begitu
menghangat, terlalu hangat bahkan hingga menyenap luka lidahku. Tapi aku tak
marah, tetap kupandangi permukaanmu yang begitu manis, meski kau beriku rasa
pahit pada ujungnya.
Kopi, sepekat apapun kau memahitkan
dirimu, izinkan aku untuk tidak jera menggilaimu. Selaju apapun kau melarikan
diri, izinkan aku untuk tidak juga mengangkat kaki. Biarku di sini, dengan
asyik menyaksikanmu di permukaan secangkir kopi, biarku di sini mendekap hangatmu, menikmati pahit manis denganmu, mengasuh cinta yang tercipta darimana saja
gerikmu bergerak.
Kopi, ingin rasanya aku larut di
matamu, siapa tahu esok lusa cinta juga ikut tumbuh di dadamu. Tetaplah kau menjadi
kopi. Kopi rasa luka dan cinta. Tetaplah menjadi teman akrab puisi-puisiku di tengah malam. Tetaplah
menjadi kopi, meski teman, meski hanya mencandumu sendirian.
No comments:
Post a Comment