Monday, October 5, 2015

Permukaan Kopi


KOPI- Lebih tepatnya secangkir kopi. Kadang kau kuteguk atau sekedar kuhirup aromamu. Kadang kau ada di pagi, siang, malam atau kapanmu kamu suka, dan pergi juga dengan sesuka, habis. Kau adalah favoritku kadang-kadang, musuh kadang-kadang, teman kadang-kadang, kopi sering mengkadang-kadangkan aku.

Aku hanya butuh secangkir kopi untuk mengingatmu. Kuseduh kau setiap kali detak jantung terdengar berteriak meronta-ronta, rindu katanya. Kupandangi permukaanmu dari atas cangkir bundar, sejam, dua jam, bahkan dua puluh empat jam, walau logika terasa ngilu menangkap hal ini. Namun paling tidak, jantungku bisa berdetak normal kembali. Kupandangi terus permukaanmu, kau seakan berbicara “teguk aku, aku mencintaimu” begitu katamu, tapi nyatanya kau tak diam, kau tak tenang, kau berlari berputar mengikut arus adukkan kopi. Tapi aku tak lelah, tetap kupandangi kau yang begitu menghangat, terlalu hangat bahkan hingga menyenap luka lidahku. Tapi aku tak marah, tetap kupandangi permukaanmu yang begitu manis, meski kau beriku rasa pahit pada ujungnya.

Kopi, sepekat apapun kau memahitkan dirimu, izinkan aku untuk tidak jera menggilaimu. Selaju apapun kau melarikan diri, izinkan aku untuk tidak juga mengangkat kaki. Biarku di sini, dengan asyik menyaksikanmu di permukaan secangkir kopi, biarku di sini mendekap hangatmu, menikmati pahit manis denganmu, mengasuh cinta yang tercipta darimana saja gerikmu bergerak.

Kopi, ingin rasanya aku larut di matamu, siapa tahu esok lusa cinta juga ikut tumbuh di dadamu. Tetaplah kau menjadi kopi. Kopi rasa luka dan cinta. Tetaplah menjadi teman akrab  puisi-puisiku di tengah malam. Tetaplah menjadi kopi, meski teman, meski hanya mencandumu sendirian.

No comments:

Post a Comment