Saturday, December 27, 2014

Pincang Tanpamu

Apa kabar? Sempatkah untuk membaca sedikit celoteh dari hati mantan kekasihmu?

Jangan cemas, sebab saya tidak akan menangis meraung, saya hanya sedikit bingung menghadapi hati yang juga menjadi linglung.
Jangan tertawa, sebab  saya di sini bukan untuk mengajakmu bercanda, atau mengajakmu menyaksikan overa van java?. Mari kita bicara sedikit serius tentang hati.

-----||-----

Rasanya tidak tau harus memulainya darimana? Seperti juga perasaan ini yang tak tau harus berlabuh kemana.
Pernahkah kita tau ada berapa hari yang kita lewati bersama selama ini, ada berapa masalah yang sudah kita hadapi dengan berani?, ada berapa air mata yang pernah kita jatuhkan?, ada berapa moment yang melekat di fikiran kita? Ada berapa kebiasaan yang saya dan kamu tahu betul akan itu, ada berapa banyak candaan, ejekan, bahkan drama yang pernah kita ciptakan? Ada berapa waktu yang kita hadapi dari hujan-panas? Siang-malam?. Tapi saya sangat tau, betapa berartinya itu semua.


Kita baru saja berjanji untuk saling menghilangkan diri, dan kamu pergi dengan lurusnya,berlari melaju tanpa memikul apapun, berlari dengan ringannya membawa diri dan hidupmu, lalu menitipkan jutaan kenang-kenangan pada saya, pada saya sendiri? Mereka menyerbu seperti sekumpulan lebah menyengat ke hati saya yang paling dalam, mereka masuk ke dalam diri saya, bahkan dari celah sekecil pori dalam kulit saya, hingga memberatkan saya melangkah kemanpun, hingga tak bisa kemanapun, diam saja di sini.


Tapi pernahkan kamu bayangkan rasanya, perubahan yang terjadi setelahnya?. Tidak ada lagi tempat untuk saya ngomel-ngomel? Kekesalanmu saat saya tidak mau menutup telepone? Tidak ada lagi pertengkaran kecil yang jatuh pada kata “yaudahlah kita jalani masing-masing aja....” dan saat ini, itu benar2 terjadi?, tidak ada lagi pertengkaran yang meredam hanya dengan kalimat, “nanti pulang jam berapa? A**ng jemput yaaa sayang....” . Tidak ada lagi tempat saya mengadukan rasa lelah saya, tidak ada lagi wadah untuk saya menumpahkan kecengengan saya, tidak ada lagi emosi terburuk dalam diri saya, (cemburu). Tidak ada lagi kehebohan-kehebohan saat menuju malam minggu, dari ngantri mandi, bingung nentuin baju apa, sampai debar-debar menunggu jemputan kamu, tidak ada lagi sakit hati disuruh ganti baju sebelum pergi (moment yang paling akan saya rindukan), tidak ada lagi asap rokokmu yang mengepul di udara, sekalipun itu adalah hal yang paling saya tidak suka, tidak ada lagi kue ulang tahun yang kamu tinggal pergi (kamu tau, tingkat kekecewaan saya setinggi apa pada saat itu?), tidak ada lagi main pusar di sepanjang jalan (dan ini adalah kebiasaan teraneh saya semenjak kenal kamu). Tidak ada lagi pulang ke rumah bersama, melewati hujan-panas bersama, tidak ada lagi usapan di kepala, tidak ada lagi salaman tangan kita seperti biasanya. Dan semua itu tidak akan ada lagi, benar-benar akan hilang. Jangan pernah tanyakan bagaimana rasanya? Ini lebih menyakitkan dari omongan pedas ibu kost, lebih menyedihkan dari drama-drama korea, lebih hancur dari buah-buah yang diblend di tempat jus favorite kita, rasanya parah...

Saya merasa kehilangan, tidak seimbang. Saya pincang tanpamu...

Perubahan yang paling saya takutkan, ketakutan yang hanya berani saya bayangkan sebelumnya. Bagaimana saya harus menghadapinya? Bagaimana saya harus berlapang dada? Bagaimana saya bisa melambaikan tangan menyaksikan kepergianmu? Bagaiman saya ikhlas bila nanti seseorang menggantikan posisi saya? Tak perlu kau menjawabnya, simpan saja jawabanmu di dalam hati karena ini hanya akan saya ingat sebagai sebuah mimpi.

Terimakasih untuk semuanya. Setelah ini tak perlu kau mengulurkan tanganmu,  kamu hanya cukup berdiri menghitung langkah saya...  hingga saya raib menyatu dalam kabut...  atau  hilang bersama angin ribut.


2 comments: