Apa kabar? Sempatkah untuk membaca sedikit celoteh dari hati
mantan kekasihmu?
Jangan cemas, sebab saya tidak akan menangis meraung, saya
hanya sedikit bingung menghadapi hati yang juga menjadi linglung.
Jangan tertawa, sebab
saya di sini bukan untuk mengajakmu bercanda, atau mengajakmu
menyaksikan overa van java?. Mari kita bicara sedikit serius tentang hati.
-----||-----
Rasanya tidak tau harus memulainya darimana? Seperti juga
perasaan ini yang tak tau harus berlabuh kemana.
Pernahkah kita tau ada berapa hari yang kita lewati bersama
selama ini, ada berapa masalah yang sudah kita hadapi dengan berani?, ada
berapa air mata yang pernah kita jatuhkan?, ada berapa moment yang melekat di
fikiran kita? Ada berapa kebiasaan yang saya dan kamu tahu betul akan itu, ada
berapa banyak candaan, ejekan, bahkan drama yang pernah kita ciptakan? Ada
berapa waktu yang kita hadapi dari hujan-panas? Siang-malam?. Tapi saya sangat
tau, betapa berartinya itu semua.
Kita baru saja berjanji untuk saling menghilangkan diri, dan
kamu pergi dengan lurusnya,berlari melaju tanpa memikul apapun, berlari dengan
ringannya membawa diri dan hidupmu, lalu menitipkan jutaan kenang-kenangan pada
saya, pada saya sendiri? Mereka menyerbu seperti sekumpulan lebah menyengat ke
hati saya yang paling dalam, mereka masuk ke dalam diri saya, bahkan dari celah
sekecil pori dalam kulit saya, hingga memberatkan saya melangkah kemanpun,
hingga tak bisa kemanapun, diam saja di sini.
Tapi pernahkan kamu bayangkan rasanya, perubahan yang
terjadi setelahnya?. Tidak ada lagi tempat untuk saya ngomel-ngomel? Kekesalanmu
saat saya tidak mau menutup telepone? Tidak ada lagi pertengkaran kecil yang
jatuh pada kata “yaudahlah kita jalani masing-masing aja....” dan saat ini, itu
benar2 terjadi?, tidak ada lagi pertengkaran yang meredam hanya dengan kalimat,
“nanti pulang jam berapa? A**ng jemput yaaa sayang....” . Tidak ada lagi tempat
saya mengadukan rasa lelah saya, tidak ada lagi wadah untuk saya menumpahkan
kecengengan saya, tidak ada lagi emosi terburuk dalam diri saya, (cemburu).
Tidak ada lagi kehebohan-kehebohan saat menuju malam minggu, dari ngantri
mandi, bingung nentuin baju apa, sampai debar-debar menunggu jemputan kamu, tidak
ada lagi sakit hati disuruh ganti baju sebelum pergi (moment yang paling akan
saya rindukan), tidak ada lagi asap rokokmu yang mengepul di udara, sekalipun
itu adalah hal yang paling saya tidak suka, tidak ada lagi kue ulang tahun yang
kamu tinggal pergi (kamu tau, tingkat kekecewaan saya setinggi apa pada saat
itu?), tidak ada lagi main pusar di sepanjang jalan (dan ini adalah kebiasaan
teraneh saya semenjak kenal kamu). Tidak ada lagi pulang ke rumah bersama,
melewati hujan-panas bersama, tidak ada lagi usapan di kepala, tidak ada lagi
salaman tangan kita seperti biasanya. Dan semua itu tidak akan ada lagi,
benar-benar akan hilang. Jangan pernah tanyakan bagaimana rasanya? Ini lebih
menyakitkan dari omongan pedas ibu kost, lebih menyedihkan dari drama-drama korea,
lebih hancur dari buah-buah yang diblend di tempat jus favorite kita, rasanya
parah...
Saya merasa kehilangan, tidak seimbang. Saya pincang
tanpamu...
Perubahan yang paling saya takutkan, ketakutan yang hanya
berani saya bayangkan sebelumnya. Bagaimana saya harus menghadapinya? Bagaimana
saya harus berlapang dada? Bagaimana saya bisa melambaikan tangan menyaksikan
kepergianmu? Bagaiman saya ikhlas bila nanti seseorang menggantikan posisi saya?
Tak perlu kau menjawabnya, simpan saja jawabanmu di dalam hati karena ini hanya
akan saya ingat sebagai sebuah mimpi.
Terimakasih untuk semuanya. Setelah ini tak perlu kau mengulurkan
tanganmu, kamu hanya cukup berdiri
menghitung langkah saya... hingga saya
raib menyatu dalam kabut... atau hilang bersama angin ribut.
😢semua org pasti tergantikan. Sedih 😢
ReplyDeleteIyaaa, hanya butuh tekad sebenarnya :)
Delete