Friday, August 15, 2014

Sesak Sisa Semalam

Pagi sekitar pukul 07.47 adalah pagi yang terlalu awal bagi penikmat tidur. Terbangun dari mimpi yang berantakkan, entah apa, mengapa, dimana, siapa, kapan, dan bagaimana isinya, saya sangat tidak tertarik untuk berusaha mengingat. Yang saya ingat hanya, malam itu seperti mati, malam itu....

-----||-----

                Malam itu, semuanya terlihat melemah.  Wajah sayu mendayu, mata merah dengan sedikit binar air mata tertahan, mulut yang bungkam penuh makna, getaran-getaran di dada yang tiba-tiba melambat, seperti malaikat sedang berusaha mencabut nyawa saya. Juga tangan yang seperti butuh ribuan dorongan untuk membantunya membuka kunci pintu kamar yang bertaburan. Ya, persis hati ini.
                Kesal dan sesal berlalu lintas dalam otak saya. Seperti tidak ada lampu merah, mereka melaju terus, lajuuuuu lalu berputar-putar saja sesuka hati. Saya pusing, ingin rasanya saya berhentikan lalu menampar mereka satu persatu kemudian pergi meninggalkan saya, begitu juga yang ingin saya lakukan kepada kamu.
                Rasa bahagia yang sangat menumpuk, kenang-kenangan yang tertimbun, bahkan rasa cinta yang tumbuh menjadi sangat rimbun dan menjulang. Malam itu, kamu mematahkan semuanya. Semua-muanya. Saya seperti mati, kehilangan kendali. Semuanya tiba-tiba berhenti begitu saja, lenyap seperti ada yang merancuni seluruh saya atau hanya seginilah batas kelelahan saya.

-----||-----

Saya dihukum, saya didesak untuk membutakan segala yang terlihat curang, melumpuhkan segala  yang masuk akal, menggenapkan segala yang ganjil, dan mendamaikan segala mengganjal.        
Kenapa demikian? Apakah saya terlalu tidak pantas untuk marah? Terlalu lemahkah saya untuk menunjukkan rasa sakit saya? Terlalu dangkalkah fikiran saya untuk menangkap semua perilaku-perilaku nakal di balik senyum sopan kamu yang begitu sumringah?
                Tenang, karena saya tidak akan dendam. Pendam, karena saya tidak akan mencaci maki. Redam, karena saya tidak akan meraung menangis. Saya disini baik-baik saja, hanya harus sedikit berlapang dada. Kamu disana juga harus baik-baik saja, hanya harus banyak belajar setia.

               

                 

No comments:

Post a Comment