Sunday, February 16, 2014

Hujan Berdongeng

Hujan dan dongeng telah menjadi satu kesatuan dalam sejarah beberapa tulisan saya. Hujan yang lihai mengundang atau saya yang terlalu sentimentil terhadap suasananya?.

Seperti yang kamu katakan, rindu itu pandai pulang dengan sendirinya, ia pandai kembali pada waktu kapan ia butuh pulang, dan pandai melayang dan hilang. Tapi satu yang kamu harus tau, bahwa hati saya bukan tempat rindumu datang dan hilang.

Kita berdua, adalah garis pada sebuah lingkaran yang tak pernah bertemu. Satu diantara kita sibuk mencari ujung, dan satunya lagi sibuk mencari pangkal. Meski saya tau, lingkaran tak memiliki ujung pangkal. Kita berdua, adalah dua hati yang satu diantaranya berusaha membuang, dan satunya lagi memungut. Kita berdua, adalah dua jiwa yang kurang memahami dirinya masing-masing.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa kamu salah, bahwa saya ini perempuan yang justru lebih perasa, lebih butuh perhatian, lebih ingin dimanja. Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan diri saya sendiri, bahwa kamu lelah dengan dunia keseharian kamu sehingga menganggap rindu saya sepele, menganggap bahwa rindu saya ini hanya akibat dari kurangnya sosialisasi sehingga berfikir sempit. Saya tidak bisa salahkan saya dan kamu.


Tapi tenang saja, karena saya terlalu mencintai kamu, maka saya coba memenuhi cita-citamu untuk membuat sebuah jarak yang lebih jauh di antara kita. Tapi, jika saya membuat terlalu jauh, maka ikhlaslah...

Jangan berusaha untuk terlalu paham, karena ini hanyalah sebuah dongeng.

No comments:

Post a Comment