Kembang api menyala riang pada lengkungan langit malam imlek
tahun ini, berwarna-warni merah dan meriah, menertawakan hati saya yang sedang merah
dan marah. Dentuman yang menggeletar, menyamarkan isakan tangis saya menunggumu
yang tiada kabar.
-----||-----
Saya baru kembali, saya sedang sibuk. Selain sibuk mengisi
liburan, saya juga sedang sibuk memikirkan cara bagaimana menyatukan kamu yang
terlalu banyak diam dan saya yang terlalu banyak bicara. Bagaimana agar keduanya
bisa saling paham, haruskah saya ikut membisu? lalu saling tak tahu-menahu.
Atau haruskah saya bicara dengan berbisik pada diri sendiri, yang perlahan
samar, lalu benar-benar tak terdengar sama sekali.
Ini adalah tentang kekurangpahaman antara dua buah hati.
Hati saya yang terlalu kesulitan untuk paham bahwa cinta juga
tidak harus selalu berjalan bersama-sama, ada kala kamu berjalan di duniamu dan
saya di dunia saya.
Juga hati kamu yang terlalu keberatan untuk paham bahwa saya
adalah seorang penabung rindu, bahwa rindu-rindu itu juga ingin dijawab dan dianggap.
-----||-----
Sebelum saya tutup tulisan ini atau bahkan saya menutup hati ini,
bolehkah jika sepanjang Kamis malam ini saya membayangkan kembali suasana
kemarin? Saat semuanya baik-baik saja, saat rindumu masih nyata terasa.
Dan bolehkah jika satu malam saja saya menumpang menginap
dalam mimpimu? Mengusahakan agar kau mengingat kembali, bahwa rindu saya belum
selesai...
No comments:
Post a Comment