Terik kota ini seketika dipadamkan oleh hujan yang datang
tanpa permisi, hingga menciptakan sebuah Rabu yang berangin, sebuah Rabu yang
dingin, juga jarak kamu dan saya yang ikut mendingin.
Jarak yang memang menjauh dari biasanya, ataukah hati kita
yang saling tak ingin bertegur sapa. Entah pada kali berapa saya merenungkan
ini, antara berbicara walau tidak ada yang mendengarkan atau memilih diam dan
mewajarkannya.
Saya adalah pencerita yang butuh wadah untuk menumpahkan
rasa senang, rasa pilu, rasa kesal, rasa-rasa yang terkumpul
dalam sebuah cerita milik saya. Mulai dari menceritakan matahari yang telat membangunkan pagi
saya, atau tugas-tugas yang menumpuk manis di meja merah jambu, menceritakan keriangan
yang singgah sebentar menghibur saya, juga tentang candaan-candaan yang saya rindukan. Atau
menceritakan tentang malam yang terlalu mencintai saya dan tak ingin saya
tinggal tidur.
Hmmm, tapi tenang dulu, saya sedang belajar mengelola egosentrisme
dalam diri saya. Jika memang terlalu berat, tak mengapa. Tapi saya akan tetap
bercerita. Dan tenanglah, karena saya tidak akan mengganggumu dengan suara saya
yang membisingkan. Cerita-cerita milik saya akan saya bisikan, dan tetaplah tenang karena kamu tak perlu terpakasa menanggap, biarkan saja ia tertangkap oleh
pendengar-pendengar yang lebih bersedia. Walau menyesat kemana-mana.
No comments:
Post a Comment