Tuesday, November 12, 2013

Di Tengah Logika dan Rasa

Selamat pagi yang di hati, selamat pagi juga rasa kantuk yang kian menumpuk, setelah satu malaman tadi saya mengorbankan waktu istirahat, menyaksikan pertengkaran hebat antara perasaan dan logika yang sesekali berkejaraan, saling menampar, saling caci mencaci, dan kemudian duduk tenang ketika mereka merasa  lelah, saling diam, lalu menyalahkan saya yang sedang berpura-pura tidur.
                                                
Perasaan bertanya dengan santun, “bagaimana kamu bisa pergi menghindar dan meninggalkan cinta? Kamu sudah terlalu jauh jatuh di dalamnya, kamu bisa apa? Bangkit dan berdiri? Kamu pikir kamu kuat? Kamu pikir kamu mudah?. Ini bukan apa-apa. Pertahankanlah cintamu, perjuangkan dia!”

Logika menyahut dan memekik keheningan malam itu “bagaimana kamu bisa terus mencintai dengan arah tujuan yang berbeda? Mau berjalan beriring lalu tiba di tempat yang berbeda-beda, omong kosong apa itu? Atau kamu mau, dia atau kamu tersesat pada tempat yang salah?. Ikhlaslah, biarkan masing-masing kalian menemukan teman setujuan. Berhentilah menjadi tolol!”

Diam, pejam, dan lenguhan nafas panjang.  Hanya itulah jawaban yang dapat saya berikan kepada mereka yang kemudian ikut diam dan terpejam.

Saya tidak tahu kepada siapa saya harus berarus? Haruskah saya berarus pada perasaan lalu berpura-pura tidak tahu-menahu dan membiarkan cinta terombang ambing tak bertitik tujuan? ataukah saya harus menyingkirkan rasa cinta saya? Mematikannya, walau saya tahu ia takkan pernah bisa benar-benar mati. Haruskah saya egois memilih salah satunya? Haruskah saya jawab disini?

-----||-----

Saya ingin tidak ada yang meninggalkan dan ditinggalkan, saya ingin saya dan kamu tetap disini, saya ingin tidak ada yang mengganti dan terganti, saya ingin tetap kamu dan saya, saya ingin tidak ada yang mengubah dan terubah, saya ingin semuanya sama, tetap sepeti ini, tetap sesempurna ini.


Tapi tenanglah, lebarkan senyummu sedikit lagi, saya tidak akan memaksa kamu, saya akan persilahkan kamu berpindah dari sini, meninggalkan saya, mengganti saya, mengubah segala tentang saya, melupakan saya, asal dengan satu syarat, “ajarkan dulu pada saya bagaimana cara berlapang dada”.

No comments:

Post a Comment