Selamat pagi yang di hati, selamat pagi juga rasa kantuk
yang kian menumpuk, setelah satu malaman tadi saya mengorbankan waktu
istirahat, menyaksikan pertengkaran hebat antara perasaan dan logika yang sesekali
berkejaraan, saling menampar, saling caci mencaci, dan kemudian duduk tenang
ketika mereka merasa lelah, saling diam,
lalu menyalahkan saya yang sedang berpura-pura tidur.
Perasaan bertanya dengan santun, “bagaimana kamu bisa pergi
menghindar dan meninggalkan cinta? Kamu sudah terlalu jauh jatuh di dalamnya,
kamu bisa apa? Bangkit dan berdiri? Kamu pikir kamu kuat? Kamu pikir kamu mudah?.
Ini bukan apa-apa. Pertahankanlah cintamu, perjuangkan dia!”
Logika menyahut dan memekik keheningan malam itu “bagaimana
kamu bisa terus mencintai dengan arah tujuan yang berbeda? Mau berjalan
beriring lalu tiba di tempat yang berbeda-beda, omong kosong apa itu? Atau kamu
mau, dia atau kamu tersesat pada tempat yang salah?. Ikhlaslah, biarkan
masing-masing kalian menemukan teman setujuan. Berhentilah menjadi tolol!”
Diam, pejam, dan lenguhan nafas panjang. Hanya itulah jawaban yang dapat saya berikan
kepada mereka yang kemudian ikut diam dan terpejam.
Saya tidak tahu kepada siapa saya harus berarus? Haruskah saya
berarus pada perasaan lalu berpura-pura tidak tahu-menahu dan membiarkan cinta terombang ambing tak bertitik tujuan? ataukah saya harus menyingkirkan
rasa cinta saya? Mematikannya, walau saya tahu ia takkan pernah bisa
benar-benar mati. Haruskah saya egois memilih salah satunya? Haruskah saya
jawab disini?
-----||-----
Saya ingin tidak ada yang meninggalkan dan ditinggalkan, saya
ingin saya dan kamu tetap disini, saya ingin tidak ada yang mengganti dan
terganti, saya ingin tetap kamu dan saya, saya ingin tidak ada yang mengubah
dan terubah, saya ingin semuanya sama, tetap sepeti ini, tetap sesempurna ini.
Tapi tenanglah, lebarkan senyummu sedikit lagi, saya tidak
akan memaksa kamu, saya akan persilahkan kamu berpindah dari sini, meninggalkan
saya, mengganti saya, mengubah segala tentang saya, melupakan saya, asal dengan
satu syarat, “ajarkan dulu pada saya bagaimana cara berlapang dada”.
No comments:
Post a Comment