Sunday, November 10, 2013

Kisah Santun di Ujung Malam Minggu

Detik-detik sisa hari ini, saya rasa cukup untuk membariskan pertanyaan-pertanyaan yang kadang-kadang berjalan, kadang-kadang berlarian, namun kadang –kadang mereka duduk tertunduk ketika mereka lelah, ketika mereka mulai tak paham, ketika pemilik rasa tak mampu menjawabnya.
                                         
Apakah salah jika terlalu cinta? Apakah salah jika mengistimewakan yang dicinta? Lalu apakah salah jika itu tidak berbalik? Jika tidak diharapkan, jika tidak dibutuhkan? Yang kemudian terabaikan, menganggur, lalu menjadi sampah-sampah yang menumpuk dan membukit.

Sebenarnya saya lelah dimaki oleh diri sendiri, sebenarnya saya ingin ganti pemaki, atau jika boleh saya yang ingin memaki. Namun keheningan terlalu mendorong saya untuk berkisah dengan sedikit santun di ujung malam minggu kali ini...

-----||-----

Membangunkan kamu tidur. Jam dinding pink di kamar mengingatkan saya untuk mencegah matahari memuncak cepat, sebelum kamu bangun, sebelum kamu siap, walau saya selalu memilih waktu yang tidak tepat. Membuat kamu marah. Saya adalah alarm yang buta waktu.

Mengirimkan pesan singkat di tiap-tiap pagi, demi mendorong semangatmu. Namun ada dan tiadanya itu, tetap sama, tak berarti apa-apa. Saya adalah pesan yang seharusnya diketik dan cukup disimpan menjadi draft.

Memberi tahu bahwa saya rindu. Saya tidak tahu alasan kenapa kata rindu dari saya membuatmu panas. Saya tidak sedang memaki, saya sedang merindu. Saya adalah kebisingan.

Mendengar suaramu pada tiap-tiap menjelang tidur, menceritakan keseharian saya pada hari itu, mengajakmu berbincang sedikit masalah rindu. Namun rasa kantuk nampaknya lebih bekuasa di diri kamu, yang berakhir kemarahan, yang berakhir dengan menutup telephone tiba-tiba. Saya adalah pendongeng yang salah tempat.

-----||-----

Kemudian? Apakah saya tetap mengistimewakan kamu? Kamu masih bisa bangun pagi sendiri pada jadwal-jadwal yang pasti tak pernah salah, masih bisa menjalankan aktifitas keseharian kamu tanpa saya semangati, masih bisa tersenyum tanpa saya rindukan, masih bisa tidur nyenyak tanpa mendengar suara saya, dan harimu tetap dapat indah tanpa ditutup dengan cerita-cerita keseharian saya. Saya hanyalah alarm yang buta waktu, draft yang tidak seharusnya dikirim, pembuat kebisingan, dan pendongeng yang salah tempat.

Seharusnya saya mengerti  kapan saya masih dibutuhkan dan sejak kapan saya sudah tidak diinginkan, seharusnya saya mampu mengatur posisi kapan saya bertahan, dan kapan saya harus berhenti dan berlari keluar.

Kamu minta sekarang? (“jangan sekarang, kenapa tidak sejak dulu?”)

No comments:

Post a Comment