Detik-detik sisa hari ini, saya rasa cukup untuk membariskan
pertanyaan-pertanyaan yang kadang-kadang berjalan, kadang-kadang berlarian,
namun kadang –kadang mereka duduk tertunduk ketika mereka lelah, ketika mereka
mulai tak paham, ketika pemilik rasa tak mampu menjawabnya.
Apakah salah jika terlalu cinta? Apakah salah jika
mengistimewakan yang dicinta? Lalu apakah salah jika itu tidak berbalik? Jika tidak
diharapkan, jika tidak dibutuhkan? Yang kemudian terabaikan, menganggur, lalu menjadi
sampah-sampah yang menumpuk dan membukit.
Sebenarnya saya lelah dimaki oleh diri sendiri, sebenarnya saya
ingin ganti pemaki, atau jika boleh saya yang ingin memaki. Namun keheningan terlalu
mendorong saya untuk berkisah dengan sedikit santun di ujung malam minggu kali
ini...
-----||-----
Membangunkan kamu tidur. Jam dinding pink di kamar mengingatkan
saya untuk mencegah matahari memuncak cepat, sebelum kamu bangun, sebelum kamu
siap, walau saya selalu memilih waktu yang tidak tepat. Membuat kamu marah. Saya
adalah alarm yang buta waktu.
Mengirimkan pesan singkat di tiap-tiap pagi, demi mendorong
semangatmu. Namun ada dan tiadanya itu, tetap sama, tak berarti apa-apa. Saya adalah
pesan yang seharusnya diketik dan cukup disimpan menjadi draft.
Memberi tahu bahwa saya rindu. Saya tidak tahu alasan kenapa
kata rindu dari saya membuatmu panas. Saya tidak sedang memaki, saya sedang
merindu. Saya adalah kebisingan.
Mendengar suaramu pada tiap-tiap menjelang tidur,
menceritakan keseharian saya pada hari itu, mengajakmu berbincang sedikit
masalah rindu. Namun rasa kantuk nampaknya lebih bekuasa di diri kamu, yang
berakhir kemarahan, yang berakhir dengan menutup telephone tiba-tiba. Saya adalah
pendongeng yang salah tempat.
Kemudian? Apakah saya tetap mengistimewakan kamu? Kamu masih
bisa bangun pagi sendiri pada jadwal-jadwal yang pasti tak pernah salah, masih
bisa menjalankan aktifitas keseharian kamu tanpa saya semangati, masih bisa
tersenyum tanpa saya rindukan, masih bisa tidur nyenyak tanpa mendengar suara
saya, dan harimu tetap dapat indah tanpa ditutup dengan cerita-cerita
keseharian saya. Saya hanyalah alarm yang buta waktu, draft yang tidak
seharusnya dikirim, pembuat kebisingan, dan pendongeng yang salah tempat.
Seharusnya saya mengerti kapan saya masih dibutuhkan dan sejak kapan saya
sudah tidak diinginkan, seharusnya saya mampu mengatur posisi kapan saya bertahan,
dan kapan saya harus berhenti dan berlari keluar.
Kamu minta sekarang? (“jangan sekarang, kenapa tidak sejak
dulu?”)
No comments:
Post a Comment