Kau pendosa!
Mengapa diam? mengapa berhenti tertawa? mengapa murung? mengapa menangis? mengapa kau tak menjawab pertanyaan-pertanyaanku?
Pendosa! aku disini bukan untuk mengajakmu bercerita, aku hanya ingin bertanya.
Pendosa! Tak pernahkah kau lihat dia yang seringkali terhempas ketika kau dengan amarahmu menghujam hatinya? tak pernahkah kau menyapu keringatnya ketika ia lelah berlutut memohon maaf? tak pernahkah kau usap dahinya ketika ia sangat butuh kasih dan sayangmu? tak pernah kau dengar setiap kali ia merintih menahan rindu denganmu, tak pernahkah kau peduli dengan setiap cerita-cerita yang ia bacakan sebelum kau tidur? tak pernah kau mendengar teriakkannya ketika ia bermimpi buruk kehilanganmu? tak pernahkah kau rasakan genggaman tangannya yang tak ingin kau pergi? tak pernahkah kau menghapus air matanya ketika ia menangis sambil berkata "jangan tinggalkan aku..." tak pernahkah kau merasakan ketenangan saat ia mencoba membuatmu tersenyum? tak cukupkah itu semua?
Lalu kini, ketika ia lelah, ketika ia merasa tak berguna, ketika ia bangkit, ketika ia berdiri, ketika ia mulai menyadari, ketika ia menemukan satu dari seribu alasan untuk menghilang, ketika itu kau sadar? ketika itu kau sedih? menangis? kau pikir berguna? berhentilah membutakan matamu.
Kau pendosa! berhenti melambaikan tanganmu pada masa lalu yang kau abaikan, rasakan betapa ia lebih bahagia tanpa kamu, sadari kenapa kamu tidak pernah bisa menjadi alasan kebahagiaannya, sebutkan seribu dari seribu satu kesalahan yang pernah kau lakukan padanya, jelaskan kenapa kini kau hanya diam dan menangis? Apa sekarang kau membisukan mulutmu? wahai "cermin"
No comments:
Post a Comment